Panduan Observasi

Alwasilah C (2003) dalam Satori, Komariah, dan Riduwan (2011) menyatakan bahwa observasi adalah penelitian atau pengamatan sistematis dan terencana yang diniati untuk perolehan data yang dikontrol validitas dan reliabilitasnya. Menurut Muljono (2012), observasi secara harfiah diartikan sebagai pengamatan. Sebagai metode ilmiah, observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara teliti dan sistematis atas gejala-gejala (fenomena) yang sedang diteliti. Dalam arti luas, tidak hanya mencakup pengamatan yang dilakukan secara langsung, tetapi mencakup pula pengamatan secara tidak langsung (misalnya angket). Dalam observasi diusahakan suatu pengamatan yang wajar, tanpa usaha untuk memengaruhi, memanipulasi, dan mengatur objek yang sedang diamati. Observasi dapat menjadi alat penelitian ilmiah jika (a) mengabdi pada tujuan-tujuan penelitian yang telah digariskan; (b) direncanakan secara sistematis (bukan dilakukan secara asal-asalan); (c) dicatat dan dihubungkan secara sistematis (tidak hanya dilakukan untuk memenuhi rasa ingin tahu belaka; dan (d) dapat dicek dan dikontrol keabsahan dan kecermatan pengamatannya.

Observasi merupakan suatu proses yang kompleks, proses yang penting adalah proses pengamatan dan ingatan. Dalam masing-masing proses ini terkandung sumber-sumber kesesatan yang perlu mendapat perhatian dengan seksama, yaitu:
a. Pengamatan. Dua indra yang sangat vital dalam pengamatan adalah mata dan telinga. Jika mata merupakan alat penangkap fakta-fakta, ada tiga persoalan penting yang wajib diketahui oleh penyelidik: (1) pengamat harus percaya bahwa alat penglihatannya adalah baik dan dapat menangkap fakta-fakta dengan benar, (2) walaupun pengamat percaya kepada penglihatannya, pengamat harus menyadari bahwa penglihatan orang mempunyai kelemahan-kelemahan dan sifat-sifat terbatas tersebut, dan (3) menyadari kelemahan dan terbatasnya alat penglihatan, penyelidik harus berusaha sekeras-kerasnya mengatasi kelemahan-kelemahan dan sifat-sifat terbatas itu.
b. Ingatan. Tidak semua orang memiliki ingatan yang setia dan luas. Cara-cara untuk mengatasi kelemahan kesetiaan dan keluasan ingatan adalah (1) mengadakan pencatatan biasa; (2) menggunakan alat-alat mekanis (mechanical devices) seperti tape recorder, kamera, dan sebagainya; (3) menggunakan lebih banyak observer; (4) memusatkan perhatian pada datum-datum yang relevan; (5) mengklasifikasi gejala dalam golongan-golongan yang tepat; dan (6) menambah bahan apersepsi tentang objek yang diamati.

Merrian (Alwasilah C, 2003:215) dalam Satori, Komariah, dan Riduwan (2011) menyatakan lima unsur penting yang harus ada dalam observasi, yaitu:
1) Latar (setting), merujuk pada aspek fisik dari latar, pengamat mencari jawaban dari pertanyaan berikut: Bagaimana lingkungan fisiknya? Bagaimana konteksnya? Tingkah laku apa yang mungkin dan tidak mungkin terjadi dalam konteks itu?
2) Pelibat (participant), pengamat mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut: Siapa saja yang ada dalam konteks itu? Berapa banyak dan apa peran masing-masing? Mengapa mereka ada disitu? Siapa saja yang boleh dan tidak boleh berada disitu?
3) Kegiatan dan interkasi (activity and interaction). Pengamat mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa yang terjadi? Apakah ada urutan kegiatan yang tetap? Bagaimana responden berinteraksi satu sama lain dalam kegiatan itu? Bagaimana interaksi itu saling berhubungan?
4) Frekuensi dan durasi (frequency and duration). Pengamat mencari jawaban terhadap pertanyaan berikut. Kapan situasi itu mulai terjadi dan berakhir? Berapa lama situasi itu berlangsung? Apakah kegiatan itu berulang-ulang dalam periode tertentu? Situasi apa yang menyebabkan munculnya situasi itu? Apakah kekhasan situasi dan kejadian itu?
5) Faktor subtil (subtle factors). Kategori ini mungkin tidak sejelas kategori diatas, pengamat mesti peka terhadap hal-hal berikut: Kegiatan informal dan tidak terencana, makna simbolik dan konotatif dari kosakata yang dipergunakan, komunikasi non verbal, seperti pakaian dan tata ruang, ukuran yang tidak berubah seperti petunjuk-petunjuk fisik, apa yang tidak terjadi padahal semestinya terjadi?

Observasi dapat dilakukan dengan partisipasi (pengamat menjadi partisipan) dan tanpa partisipan (pengamat menjadi non-partisipan). Observasi sebagai partisipasan artinya peneliti merupakan bagian dari kelompok yang ditelitinya. Keuntungan cara ini adalah penelitian merupakan bagian integral dari situasi yang dipelajarinya, sehingga kehadiran peneliti tidak memengaruhi situasi kelompok yang diteliti, peneliti mengenal situasi dengan baik dan juga dapat mengumpulkan keterangan dengan lebih banyak. Akan tetapi, bila tidak berhati-hati, peneliti dapat terlampau terlibat dalam situasi, sehingga prosedur yang diikutinya tidak dapat dicek atau diulangi oleh peneliti lain. Keterlibatan yang terlalu jauh sering menyebabkan pengamatan tidak tajam karena hal-hal yang sebenarnya khas dan istimewa menjadi tampak bagi peneliti (Muljono, 2012).

Dalam melakukan observasi partisipan, ada empat pola yang dapat dilakukan (Idrus, 2009), yaitu pola: (a) pengamatan secara lengkap; (b) pemeran serta sebagai pengamat; (c) pengamat sebagai pemeran serta; (d) pengamatan penuh. Masing-masing pola maksudnya sebagai berikut:
1) Pengamatan Secara Lengkap
Maksudnya adalah pengamat (observer) menjadi anggota masyarakat yang diamati secara penuh. Dengan begitu, observer tidak lagi terpisah, tetapi menyatu dan menjadi bagian masyarakat yang sedang diamatinya. Keuntungan dari proses ini adalah peneliti akan memperoleh informasi sedetail mungkin, bahkan informasi yang paling rahasia sekalipun.
2) Pemeran Serta Sebagai Pengamat
Pada proses pengamatan ini peneliti tidak sepenuhnya sebagai pemeran serta (tidak menjadi anggota), namun masih tetap melaksanakan proses pengamatan. Peneliti masih pula mengikuti aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat yang diamati sehingga masih memungkinkan melakukan pengamatan. Kelemahan proses ini adalah subjek yang diamati akan membatasi diri sehingga informasi rahasia sulit didapat secara baik.
3) Pengamatan Sebagai Pemeran Serta
Maksudnya adalah peranan pengamat secara terbuka diketahui oleh seluruh subjek, bahkan mungkin pula pengamat didukung oleh subjek. Mengingat ada dukungan subjek, proses pengamatan ini memungkinkan diperolehnya data yang dibutuhkan dalam penelitian.
4) Pengamatan Penuh
Dalam proses ini peneliti dengan bebas melaksanakan proses pengamatan tanpa diketahui oleh subjek yang sedang diamatinya. Peneliti akan menjaga jarak agar identitias dirinya sebagai peneliti tidak diketahui oleh subjek yang sedang diamatinya. Hanya dilema yang muncul kemudian adalah tatkala adanya sanggahan dari subjek yang diamati saat paparan data penelitian dilakukan peneliti secara terbuka.

Kekurangan dalam metode observasi dengan bertindak sebagai partisipan, peneliti sering menghabiskan banyak waktu untuk bisa diterima sebagai anggota kelompok yang ditelitinya. Oleh sebab itu, diperlukan metode observasi nonpartisipan. Dalam metode ini, peneliti yang akan meneliti tidak perlu menyamar. Keberatan cara ini biasanya adalah kehadiran para pengamat akan mempengaruhi mereka yang sedang diteliti. Namun, bila kehadiran pengamat tadi sudah dianggap biasa, maka kekakuan kelompok yang diteliti menjadi wajar kembali (Muljono, 2012).

Selain itu, untuk pencatatan hasil pengamatan (Nawawi dan Hadari, 1995) dapat dipergunakan beberapa alat (instrumen) sebagai berikut:
1) Catatan Anekdot (Anecdotal Record)
Dalam melakukan pengamatan terhadap suatu keadaan/situasi, kejadian atau peristiwa yang berhubungan dengan masalah penelitian, setiap peneliti harus mampu mengidentifikasi munculnya unsur-unsur dari gejala-gejala di dalam variabel penelitiannya. Gejala atau unsur-unsurnya harus segera dicatat karena daya ingat seorang pengamat, kekeliruan lebih mudah terjadi bila tidak membuat catatan tentang data yang diamati, meskipun dengan cara yang paling sederhana. Catatan yang paling sederhana disebut catatan anekdot karena bentuknya berupa lembaran-lembaran kertas putih atau sebuah buku catatan. Misalnya dalam penelitian mengenai reaksi narapidana setelah mengikuti ceramah keagamaan yang diberikan dua kali seminggu. Pengamatan dilakukan secara terus menerus dengan mencatat setiap unsur-unsur dalam gejala yang menunjukkan tingkah laku positif dan tingkah laku negatif di dalam kehidupan sehari-hari dan ukuran norma-norma keagamaan. Setelah dilakukan selama tiga bulan, akan diperoleh banyak catatan, baik yang menunjukkan jenis tingkah lakunya, kualitas tingkah laku, maupun frekuensi setiap tingkah laku, dan sebagainya. Selanjutnya, data dapat diolah sesuai dengan tujuan penelitiannya agar mampu menjawab masalah atau menguji hipotesis penelitian yang telah dirumuskan terdahulu.
2) Catatan Berkala (Insidental Record)
Catatan ini tidak berbeda dengan catatan anekdot. Perbedaannya adalah pada pengamatan menggunakan alat catatan berkala yang ditetapkan tenggang waktu dalam melakukan pencatatan sesuai dengan masalah penelitian. Misalnya pencatatan data dilakukan seminggu sekali selama satu hari setiap pencatatan yang berlangsung selama 3 atau 6 bulan.
3) Daftar Cek (Check List)
Penggunaan catatan anekdot dan catatan berkala terkadang sulit dalam pelaksanaannya dan hasilnya sulit untuk diolah. Pencatatan sulit dilakukan karena seringkali ditemui munculnya gejala atau unsur-unsurnya sangat cepat dan dalam waktu singkat, sehingga observer sering tertinggal dalam membuat catatan. Usaha untuk memperbaiki instrumen pencatat data seperti itu dilakukan dengan membuat instrumen untuk mencatat data yang disebut daftar cek. Untuk itu, variabel penelitian dijabarkan secara rinci berupa gejala-gejala atau unsur-unsur di dalam setiap gejala, sebagai klasifikasi data yang perlu dihimpun. Tugas pengamat menjadi sangat sederhana dan dapat dilakukan dengan cepat jika keadaan mengharuskan karena gejala atau unsur-unsurnya yang muncul sangat cepat secara silih berganti. Tugas tersebut sekedar memberi tanda cek berupa tanda √.
4) Skala Nilai (Rating Scale)
Penggunaan daftar cek untuk menghimpun data dalam observasi, seringkali belum memuaskan seorang peneliti. Ketidakpuasan itu disebabkan dinilai masih kurang teliti karena hanya mengungkapkan ada atau tidak suatu gejala atau unsur-unsurnya. Data yang terkumpul tidak dikategorikan menurut suatu ukuran tertentu, terutama yang menggambarkan kualitasnya. Untuk itu dilakukan usaha penyempurnaan dan pengembangan menjadi alat pengumpul data yang disebut skala nilai. Klasifikasi ini disusun berderet ke bawah, sedang ke samping dicantumkan kategori sesuai dengan maksud/tujuan penelitian. Kategori yang dimaksud antara lain:
a. Berskala dua, seperti baik dan buruk, setuju dan tidak setuju
b. Berskala tiga, seperti baik, sedang, buruk; setuju, ragu-ragu, tidak setuju
c. Berskala lima, seperti baik sekali, baik, sedang, buruk, dan buruk sekali; sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju
d. Dapat dikembangkan lagi menjadi berskala tujuh atau Sembilan, namun semakin rinci kategori yang menggambarkan skala, biasanya semakin sulit mengidentifikasi data dalam kenyataan yang diobservasi.
5) Peralatan Mekanik (Mechanical Device)
Apabila suatu peristiwa, keadaan atau suatu kejadian hanya terjadi satu kali atau tidak berulang dan bahkan berlangsung singkat, observasi seringkali sulit dilakukan secara langsung. Untuk itu diperlukan alat pembantu dalam menghimpun data peralatan elektronik yang jenisnya disesuaikan dengan keperluan. Dengan menggunakan alat bantu itu dilakukan usaha merekam suatu peristiwa, situasi/ keadaan atau kejadian yang berhubungan dengan masalah penelitian. Observasi terhadap rekaman itu dilakukan untuk mengumpulkan data berupa pencatatan gejala-gejala atau unsur-unsurnya sesuai dengan tujuan penelitian. Alat perekam itu antara lain berupa photo tustel, tape rekorder, kamera film, video kaset, dan slide film.

Jehoda, dkk. (1958) dalam Idrus (2009) memberikan batasan keilmiahan teknik observasi ini. Selama masih menggunakan kaidah sebagai berikut, teknik ini dianggap ilmiah, yaitu:
1) Mengabdi kepada tujuan-tujuan penelitian yang telah dirumuskan.
2) Direncanakan secara sistematis, bukan terjadi secara tidak teratur.
3) Dicatat dan dihubungkan dengan proposi-proposisi yang lebih umum, tidak hanya dilakukan untuk memenuhi rasa ingin tahu belaka.
4) Dapat dicek dan dikontrol validitas dan reliabilitas ketelitiannya sebagaimana data ilmiah lainnya.

Menggunakan metode observasi memiliki banyak kelebihan (Satori, Komariah, dan Riduwan, 2011) diantaranya adalah:
1) Peneliti mengetahui kejadian sebenarnya sehingga informasinya diperoleh langsung dan hasilnya akurat.
2) Peneliti dapat mencatat kebenaran yang sedang terjadi.
3) Peneliti dapat memahami substansi sehingga ia dapat belajar dari pengalaman yang sulit dilupakan.
4) Memudahkan peneliti dalam memahami perilaku yang kompleks.
5) Bagi informan yang tidak memiliki waktu masih bisa memberikan kontribusi dengan mengijinkan untuk diobservasi.
6) Observasi memungkinkan pengumpulan data yang tidak mungkin dilakukan oleh teknik lain.
Kekurangan metode observasi adalah sebagai berikut:
1) Memakan waktu yang lama.
2) Tergantung pada kepiawaian pengamat. Kalau pengamatnya kurang kualified dapat menimbulkan bias dan data bisa terdistorsi.
3) Observer apalagi yang dikenal dan disegani bisa mempengaruhi perilaku partisipan sehingga situasinya bisa menjadi dibuat-buat dan kaku.
4) Observer yang berperanserta kurang memiliki waktu untuk membuat catatan hasil pengamatannya.
5) Menghasilkan data yang banyak dan kadang tidak sistematis sehingga menyulitkan peneliti untuk menganalisisnya.

DAFTAR PUSTAKA

Idrus M. 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif, Edisi Kedua. Yogyakarta: Erlangga.

Muljono P. 2012. Metode Penelitian Sosial. Bogor: IPB Press.

Nawawi H. dan Hadari M. 1995. Instrumen Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Satori D, A Komariah, dan Riduwan. 2011. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s